Pages

Rabu, 02 April 2014

TURUNKAN GAJIKU JIKA BERPALING DARI NIATKU
(OBATKU ADA PADA DIRIKU)

            Tunjangan guru kini menjadi trend pembicaraan di ahir-ahir ini. Keinginan untuk mendapatkan uang lebih menjadi fenomena salah satu tujuan guru di Indonesia. Berbagai macam dilakukan meskipun harus sikut-sikutan (berebut jam mengajar dsb) dengan sesama. Satu hal yang memprihatinkan aialah ketika tanggung jawab yang diamanatkan tidak sesuai bahkan terabaikan. Meskipun Pemerintah terus berupaya keras untuk menigkatkan kinerja, keprofesionalan mereka, misalnya memberikan tugas untuk membuat PTK dsb, namun yang terjadi banyak upaya plagiasi dan pemanfaatan keahlian (pembuatan PTK). Apabila yang terjadi seperti itu, tentu pendidikan hanya menjadi bahan cibiran dari bebagai kalangan. Dan tidak kalah hebatnya yang menjadi bahan tertawaan para operator pendidikan ialah ketika melihat kurang maksimalnya sistem penidikan berbasis online kini sudah digembar-gemborkan sebagai kemajuan pendidikan.
            Seprti inikah pendidikan di Indonesia? banyak yang mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia semakin amburadul. Salah satu faktor tersebut ialah: akibat berpalingnya niat, tanggung  jawab sebagai sosok yang memiliki visi mulia. Dalam masalah ini mungkin bisa dipahami dengan beberapa pendekatan, pertama: bayani (teks), kedua: burhani (kontek; rasional), ketiga: burhani (intuisi; kehendak hati). Apabila seorang guru berjalan sesuai jalur bayani maka mereka tahu pekerjaan dan tanggung jawab sebagai pendidik. Misalnya guru yang sudah bersertifikasi tentu akan lebih meningkatkan kinerja, tanggung jawab mereka karena upah yang diterima sudah balance. Kunci utamanya kesadaran guru terhadap pekerjaan dan tuntutan/gaji sesuai sehingga terus berupaya memperbaiki diri. Apabila yang dijalankan pada pendekatan kedua, maka yang terjadi keadaan-keadaan seperti di atas, misalnya lupa dengan niat, tujuan utama untuk mencerdaskan anak bangsa. Aktivitas yang terjadi hanya sebuah perilaku yang berdampak pada kerakusan, keegoisan untuk mengejar harta semata tanpa memperhatikan nasib sesama serta tanggung jawab yang diamanatkan kepadanya. Apabila yang dijalankan pada jalur/pendekatan burhani maka yang terjadi ialah koreksi diri atas segala yang sudah dilaksanakan, baik buruknya hingga sampai pada kemanfaatan yang selama ini diperoleh dalam mengabdikan diri sebagai sosok yang memiliki tujuan mulia untuk kehidupan bangsa dan Negara. Pada pendekatan ini lebih meluruskan niat untuk menuju tujuan pendidikan yang dicapai, tidak terlalu memperhatikan, mempermasalahkan gaji karena yang menjadi dasar mereka ialah kepuasan sebagai seseorang yang bermanfaat bagi sesama serta balasan Tuhan yang selalu mengalir dari berbagai sudut, penjuru.

            Pertanyaan muncul sekejap! Termasuk manakah yang selama ini kita lakukan, kerjakan? sudah maksimalkah kinerja kita? Sudah lupakah niat kita menjadi sosok yang berhati mulia? Satu jawaban yang menjadi sumber kekuatan kita ialah merenungi segala hal yang sudah kita peroleh, dan memiliki anggapan kuat kalau itu/materi bukan tujuan kita. Semua bisa hilang, musnah dalam sekejap. MA’AF KALAU ADA KESALAHAN DALAM BERARGUMENTASI        

0 komentar:

Posting Komentar