TURUNKAN
GAJIKU JIKA BERPALING DARI NIATKU
(OBATKU
ADA PADA DIRIKU)
Tunjangan guru kini menjadi trend
pembicaraan di ahir-ahir ini. Keinginan untuk mendapatkan uang lebih menjadi fenomena
salah satu tujuan guru di Indonesia. Berbagai macam dilakukan meskipun harus
sikut-sikutan (berebut jam mengajar dsb) dengan sesama. Satu hal yang
memprihatinkan aialah ketika tanggung jawab yang diamanatkan tidak sesuai
bahkan terabaikan. Meskipun Pemerintah terus berupaya keras untuk menigkatkan
kinerja, keprofesionalan mereka, misalnya memberikan tugas untuk membuat PTK
dsb, namun yang terjadi banyak upaya plagiasi dan pemanfaatan keahlian
(pembuatan PTK). Apabila yang terjadi seperti itu, tentu pendidikan hanya
menjadi bahan cibiran dari bebagai kalangan. Dan tidak kalah hebatnya yang
menjadi bahan tertawaan para operator pendidikan ialah ketika melihat kurang
maksimalnya sistem penidikan berbasis online kini sudah digembar-gemborkan
sebagai kemajuan pendidikan.
Seprti inikah pendidikan di
Indonesia? banyak yang mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia semakin
amburadul. Salah satu faktor tersebut ialah: akibat berpalingnya niat, tanggung
jawab sebagai sosok yang memiliki visi
mulia. Dalam masalah ini mungkin bisa dipahami dengan beberapa pendekatan, pertama:
bayani (teks), kedua: burhani (kontek; rasional), ketiga: burhani
(intuisi; kehendak hati). Apabila seorang guru berjalan sesuai jalur bayani
maka mereka tahu pekerjaan dan tanggung jawab sebagai pendidik. Misalnya guru
yang sudah bersertifikasi tentu akan lebih meningkatkan kinerja, tanggung jawab
mereka karena upah yang diterima sudah balance. Kunci utamanya kesadaran guru
terhadap pekerjaan dan tuntutan/gaji sesuai sehingga terus berupaya memperbaiki
diri. Apabila yang dijalankan pada pendekatan kedua, maka yang terjadi keadaan-keadaan
seperti di atas, misalnya lupa dengan niat, tujuan utama untuk mencerdaskan
anak bangsa. Aktivitas yang terjadi hanya sebuah perilaku yang berdampak pada kerakusan,
keegoisan untuk mengejar harta semata tanpa memperhatikan nasib sesama serta
tanggung jawab yang diamanatkan kepadanya. Apabila yang dijalankan pada
jalur/pendekatan burhani maka yang terjadi ialah koreksi diri atas
segala yang sudah dilaksanakan, baik buruknya hingga sampai pada kemanfaatan
yang selama ini diperoleh dalam mengabdikan diri sebagai sosok yang memiliki
tujuan mulia untuk kehidupan bangsa dan Negara. Pada pendekatan ini lebih meluruskan
niat untuk menuju tujuan pendidikan yang dicapai, tidak terlalu memperhatikan,
mempermasalahkan gaji karena yang menjadi dasar mereka ialah kepuasan sebagai
seseorang yang bermanfaat bagi sesama serta balasan Tuhan yang selalu mengalir
dari berbagai sudut, penjuru.
Pertanyaan muncul sekejap! Termasuk
manakah yang selama ini kita lakukan, kerjakan? sudah maksimalkah kinerja kita?
Sudah lupakah niat kita menjadi sosok yang berhati mulia? Satu jawaban yang
menjadi sumber kekuatan kita ialah merenungi segala hal yang sudah kita
peroleh, dan memiliki anggapan kuat kalau itu/materi bukan tujuan kita. Semua
bisa hilang, musnah dalam sekejap. MA’AF KALAU ADA KESALAHAN DALAM BERARGUMENTASI